Makassar, Carakde.com — Rencana pemerintah untuk menambah etanol sebesar 10 persen pada bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite atau Pertamax memicu kekhawatiran para pengendara dan dealer kendaraan.
Mereka menyebut campuran etanol dapat mengurangi kualitas bahan bakar. Akibatnya performa mesin jadi menurun hingga menyebabkan konsumsi bahan bakar lebih boros.
“Kalau BBM tercampur etanol itu bisa merusak mesin, bikin karatan di dalam, dan performanya jadi turun. Akhirnya bensin juga makin boros,” ujar salah satu warga, Chairil Aksan, Rabu (22/10/2025).
Menurut Chairil, dampak tersebut tidak hanya terasa dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, etanol yang bersifat menyerap air dapat mempercepat proses korosi pada logam di ruang mesin.
“Yang rugi bukan cuma pengguna motor atau mobil, tapi juga industri servis karena banyak kendaraan yang cepat rusak,” tambahnya.
Dealer Waspadai Resiko
Sementara itu, Muhammad Rasyidin Basir, Service Head Kalla Toyota Serui, menjelaskan bahwa penggunaan BBM yang dicampur etanol seperti E10 (10% etanol, 90% bensin) memang memiliki dua sisi — ada dampak positif, namun juga risiko yang perlu diwaspadai.
Menurutnya, salah satu keunggulan utama etanol adalah kemampuannya meningkatkan angka oktan pada bahan bakar. Angka oktan yang tinggi membuat mesin lebih tahan terhadap knocking atau ledakan dini dalam ruang bakar.
Selain itu, campuran etanol juga membuat proses pembakaran lebih sempurna, sehingga mengurangi emisi gas beracun seperti karbon monoksida.
“Etanol berasal dari bahan nabati seperti tebu atau singkong, sehingga dianggap lebih ramah lingkungan dan berkontribusi pada pengurangan emisi karbon,” jelas Rasyidin.
Namun di sisi lain, Rasyidin menekankan bahwa kandungan energi etanol lebih rendah dibandingkan bensin murni. Hal itu membuat kendaraan lebih boros karena membutuhkan lebih banyak bahan bakar untuk jarak tempuh yang sama.
“Etanol juga punya sifat menyerap air, ini bisa menyebabkan karat di tangki dan menyulitkan mesin di kondisi dingin. Karena itu, perlu kehati-hatian dalam penyimpanan maupun distribusinya,” katanya.
Pengawasan Pertamina Harus Diperketat
Pengamat transportasi Universitas Negeri Makassar (UNM), Qadriathi, menilai peredaran BBM tercampur etanol tidak boleh dianggap sepele.
Menurutnya, selain berpotensi merusak kendaraan, praktik pencampuran ilegal juga bisa menimbulkan dampak lingkungan dan ekonomi yang serius.
“Pertamina harus benar-benar melakukan fungsi pengawasan dan kontrol secara ketat. Kalau ada oknum yang sengaja mencampur BBM demi keuntungan, itu harus ditindak,” tegasnya.
Ia menjelaskan, lemahnya koordinasi antarinstansi dapat membuka celah bagi oknum nakal untuk memanipulasi kualitas BBM. Karena itu, ia mendorong agar Pertamina, aparat penegak hukum, dan pemerintah daerah bekerja sama menutup peluang praktik curang di lapangan.
“Kalau pengawasan tidak berjalan, masyarakat yang jadi korban. Kendaraan rusak, biaya perawatan naik, dan lingkungan juga ikut tercemar,” ujarnya.
Desakan Pengawasan dan Edukasi Publik
Fenomena BBM tercampur etanol ini menambah panjang daftar persoalan distribusi energi di tingkat daerah. Selain menyangkut kualitas dan keamanan produk, persoalan ini juga menyoroti transparansi pengawasan Pertamina serta perlunya edukasi bagi masyarakat agar lebih cermat memilih bahan bakar.
Pemerhati kebijakan publik menilai, pemerintah dan Pertamina perlu membuka ruang komunikasi yang lebih aktif kepada konsumen, termasuk menjelaskan jenis bahan bakar yang memang mengandung etanol secara resmi (seperti Pertamax Green) agar tidak terjadi kebingungan di lapangan.
Menurut Qadriathi, jika pengawasan tidak diperketat, maka risiko penyalahgunaan dan pencampuran ilegal bahan bakar bisa terus berulang dan merugikan banyak pihak.
Kasus dugaan BBM tercampur etanol di Makassar ini menjadi alarm bagi semua pihak bahwa pengawasan distribusi energi tidak boleh longgar. Transparansi, koordinasi antar lembaga, serta edukasi masyarakat menjadi kunci agar keselamatan pengguna dan keberlanjutan lingkungan tetap terjaga.
“Yang kita butuhkan bukan sekadar bahan bakar murah, tapi bahan bakar yang aman, bersih, dan jujur,” tutup Qadriathi.
Editor: Muh Agung Eka






